Sepenggal Kehidupan

by : Raditya Ndaru

Hujan deras masih mengguyur kota Yogyakarta. Gadis kecil itu termangu didekat jendela kusam di sudut ruangan. Kuhampiri pelan setelah tadi kutinggal sebentar untuk sholat Isya’. Kusampirkan jaketku di punggungnya lalu kupeluk dia. Akhirnya pecahlah tangisnya. Ya, dia adalah salah satu anak korban bencana letusan Gunung Merapi.

Namanya Indah. Bayangkan di umur 8 tahun ia kehilangan keluarganya. Siang tadi waktu evakuasi di daerah Pakem, ia keluar dari rumahnya bertelanjang kaki sambil menangis. Tubuhnya penuh abu dari Merapi. Bahkan rambutnya pun menjadi putih. Kudekati ia dan kubuka masker di wajahku, agar ia tidak takut. Kuberikan senyum terbaik ku.

“Kak, emak sm Budi masih di dalam rumah. Tidur terus. Dibangunin gak mau bangun” katanya merengek.

“Iya. Kita ke tempat aman dulu ya sayang. Biar temen-temen mas ini yang membangunkan emak sm Budi,” kataku pelan.

Ku usap air matanya. Lalu ku gendong ia ke tempat penampungan. Masih menangis ketakutan. Sesampainya di sana, ku bersihkan tubuhnya dengan washlap basah dan kuganti bajunya dengan pakaian sumbangan. Kubawa kedalam ruangan, lalu ambilkan roti dan air mineral gelasan. Ia makan dengan lahap, walaupun tak berhenti menanyakan emak nya.
Baca Lebih Lanjut

Iklan

Ketika Peradaban-pun Bertasbih

Ini merupakan essay ku yang dilombakan dalam “Islamic Essay & Poster Competition 2010” dengan tema “Iman dan Taqwa, Bekal Pemuda Muslim Membangun Peradaban” yang diadakan oleh SKI FK UNS. Mendapat penghargaan juara harapan 1, yg di umumkan pada Seminar “Adrenalin” pada hari Ahad, 7 November 2010.

 

Ketika Peradaban pun Bertasbih

by : Raditya Ndaru PP

History, Present, and Future

Membangun peradaban. Dua kata yang akan membuat pikiran kita berkelana, mengembara jauh. Dengan kualitas dan kuantitas yang berbeda setiap orangnya tentu. Bisa dikatakan ketika anda seorang yang memiliki nasionalisme tinggi, akan teringat dengan Revolusi Perancis. Ketika anda seorang penggemar taktik perang, akan teringat dengan “Art of War” nya Tsun Zu. Atau ketika anda seorang pejuang muslim, tentu akan teringat dengan kejayaan Islam era nya Rosul dan para shahabat. Banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik dari sejarah. Saya jadi teringat kata kata guru saya waktu SMA, “Jasmerah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah”. Ini benar adanya, karena sejarah memiliki makna yang tak tergantikan nilainya.

Bukan hanya sejarah, peradaban bisa dikaitkan dengan masa depan. Para intelektual muda dibutuhkan untuk merancang dan membangun peradaban di masa yang akan datang. Dengan ilmu tentunya. Tetapi peran untuk merancang dan membangun peradaban di masa depan bukan hanya dipundak para pemuda, melainkan generasi tua pun akan ikut berperan didalamnya tentu.

Dari semua itu, yang paling penting adalah sekarang. Ya sekarang ini. Bagaimana sekarang ini menjadi intelektual muda tangguh, mencetak para intelektual muda yang tangguh, cara mengubah dan menyamakan dari berbagai mindset baik dari kalangan generasi tua maupun muda. Dengan belajar dari sejarah, baik yang kelam maupun yang cemerlang. Dengan memfokuskan target jitu untuk membangun peradaban di masa depan.

Keagungan Iman dan Taqwa

Kita sebagai umat muslim, tentunya tak akan terlepas dengan yang namanya Iman dan Taqwa. Dan sudah seharusnya memahami hakekat Iman dan Taqwa itu sendiri. Saya akan sedikit menyajikan tentang pengertian apa itu iman dan apa itu taqwa. Sekedar untuk me-refresh ingatan kita.

Iman berasal dari bahasa arab secara etimologis berarti percaya. Diambil dari kata kerja ‘aamana’ dan ‘yukminu’ yang berarti percaya atau membenarkan. Seperti kata Ali r.a. bahwasannya “iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota (badan)”. Sehingga ketika seseorang itu mengucapkan syahadat, melaksanakan rukun islam, tetapi dalam hatinya ia tidak mempercayai nya, maka iman nya bisa disebut tidak sempurna. Begitu juga sebaliknya. Dalam hal ini, tentunya contoh kita adalah baginda Rosul dan juga para shahabat. Beliau Rosululloh SAW mengatakan, yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, bahwasannya “Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan laa ilaha illallah”. Naik dengan ketaatan dan turun dengan kemaksiatan.  Jadi sudah seharusnya, kita sebagai seorang muslim, entah muda maupun tua untuk selalu dan selalu menjaga iman kita.

Sedangkan makna Taqwa, seperti kata Imam An-Nawawi, adalah “Mentaati perintah dan laranganNya”. Sehingga maksudnya adalah menjaga diri dari pekerjaan atau hal-hal yang mengakibatkan siksa Allah Azza wa Jalla, baik dengan melakukan perbuatan atau meninggalkannya. Orang yang tidak menjaga diri nya dari perbuatan dosa, berarti dia bukan orang yang bertaqwa. Taqwa itu sendiri mencakup tiga tingkatan:

1. Menjaga hati dan anggota tubuh dari perbuatan dosa dan keharaman. Apabila seseorang melakukan hal ini hatinya akan tetap hidup.
2. Menjaga diri dari perkara-perkara yang makruh/dibenci. Apabila seseorang melakukan hal ini hatinya akan sehat dan kuat.
3. Menjaga diri dari berlebih-lebihan -dalam perkara mubah- dan segala urusan yang tidak penting. Apabila seseorang melakukan hal ini hatinya akan diliputi dengan kegembiraan dan sejuk dalam menjalani ketaatan

Tingkat ketaqwaan dan keimanan kita tentu sangat jauh kualitasnya dengan para shahabat. Sangat jauh jarak kita dengan Rosululloh. Katakanlah orang yang paling sholeh sekalipun di zaman ini, tak akan bisa mengungguli orang sholeh pada zaman terdahulu. Karena mereka, para shahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, telah ditempa dengan ujian yang sangat sangat berat. Dengan kualitas terjamin, sertifikat langit. Ibarat, sebening permata di zaman ini tetap lebih bening permata pendahulunya. Sedangkan kita, yah saya merasa sangat malu membandingkannya dengan para shahabat. Baru diberikan ujian sedikit saja oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala saja mengeluh kesana kemari. Jauh sekali. Baca Lebih Lanjut