Sepenggal Kehidupan

by : Raditya Ndaru

Hujan deras masih mengguyur kota Yogyakarta. Gadis kecil itu termangu didekat jendela kusam di sudut ruangan. Kuhampiri pelan setelah tadi kutinggal sebentar untuk sholat Isya’. Kusampirkan jaketku di punggungnya lalu kupeluk dia. Akhirnya pecahlah tangisnya. Ya, dia adalah salah satu anak korban bencana letusan Gunung Merapi.

Namanya Indah. Bayangkan di umur 8 tahun ia kehilangan keluarganya. Siang tadi waktu evakuasi di daerah Pakem, ia keluar dari rumahnya bertelanjang kaki sambil menangis. Tubuhnya penuh abu dari Merapi. Bahkan rambutnya pun menjadi putih. Kudekati ia dan kubuka masker di wajahku, agar ia tidak takut. Kuberikan senyum terbaik ku.

“Kak, emak sm Budi masih di dalam rumah. Tidur terus. Dibangunin gak mau bangun” katanya merengek.

“Iya. Kita ke tempat aman dulu ya sayang. Biar temen-temen mas ini yang membangunkan emak sm Budi,” kataku pelan.

Ku usap air matanya. Lalu ku gendong ia ke tempat penampungan. Masih menangis ketakutan. Sesampainya di sana, ku bersihkan tubuhnya dengan washlap basah dan kuganti bajunya dengan pakaian sumbangan. Kubawa kedalam ruangan, lalu ambilkan roti dan air mineral gelasan. Ia makan dengan lahap, walaupun tak berhenti menanyakan emak nya.

“Emak dimana kak? Kok belum datang ya? Mau kubagiin rotinya. Enak lho!” katanya lugu.

“Iya. Sebentar lagi dek. Sabar. Mungkin emak baru mandi, biar makan rotinya lebih segar,” kataku menenangkan.

“Tapi kak, kok itu orang-orang pada gak mandi ya. Kan kena debu, jadi putih semua,” tanyanya.

Memang diruangan itu tak hanya kami berdua, tapi ratusan orang berlindung di tempat pengungsian.

“Mungkin masih capek. Jadi lebih memilih istirahat dahulu,” jawabku.

“Ooohh… oya nama kakak siapa? Namaku Indah,” tanyanya sambil tersenyum lebar.

Ditengah-tengah bencana seperti ini masih bisa tersenyum tulus. Luar biasa.

“Namaku kak Raru, dek,” aku ikutan tersenyum.

Setelah makan, ia mengajak jalan-jalan. Kupakaikan masker juga, lalu berkeliling melihat keadaan. Bertemu dengan tetangga-tetangga rumahnya, saling menyapa satu sama lain. Sesaat kemudian, tim evakuasi datang. Secepat kilat ia melepaskan tangan dari genggamanku, sambil berteriak pilu.

“Emaaaaaaaaaaaaaaaaaakk!!!!” teriaknya.

Ya, emaknya terbujur kaku diatas tandu. Putih berselimut debu merapi. Tak bernyawa.

“Budiiiiiiiiiiiiiiii!!” isaknya. Sang adik juga terbujur kaku disamping ibunya.

Lidah ku kelu. Tak  bisa berkata apa-apa.

“Maaf Ru, tak bisa diselamatkan. Terlalu parah kondisinya,” kata temanku seraya mendekatiku.

“Iya. Bukan salah siapa-siapa. Memang sudah qodarulloh. Kita ini cuma bisa berusaha membantu semampunya,” kataku pelan.

Aku memeluk Indah dari belakang. Lalu ia menangis meraung dipelukanku. Kugendong masuk kembali ke ruangan. Ingin aku menghiburnya, tapi lidah ini terasa kelu. Tak tahu apa yang harus dikatakan.

“Bapak mana kak? Tadi pagi bapak mau naik ke atas katanya. Tapi sampai siang belum juga datang,” katanya sambil terisak.

“Iya nanti juga menyusul kesini,” kataku lemah.

Aku tak habis pikir, ada kepentingan apa bapak nya sampai naik ke atas, meninggalkan keluarganya. Entah bagaimana sekarang nasibnya. Karena radius aman itu 20km dari puncak, bisa dibayangkan kalau radius cuma 5km dari puncak. Kemungkinan besar akan terkena awan panas, Whedus Gembel.

Akhirnya ia tertidur dipelukanku. Ku usap pelan rambutnya. Ku seka air matanya yang meleleh di pipi. Kulihat sekitar ruangan itu. Ada yang berwajah tegar. Ada pula yang saling berpelukan meratapi nasib. Berbaring tanpa alas. Yang sama adalah warna nya, abu-abu. Berselimut debu Merapi. Jogja kelabu.

Malam itu, ia kembali menangis dipelukanku. Memanggil manggil emaknya. Aku mengusap kepalanya pelan. Umurnya yang masih muda, mengingatkan tentang adik kandung ku di kampung halaman. Tetapi kondisi nya jauh berbeda.

Kulantunkan ayat-ayat alQur’an dengan lembut. Tak banyak hafalanku. Tapi lumayanlah, karena aku sendiri bingung bagaimana menenangkan anak tersebut.

“Suara kak Raru bagus ya. Kayak pak ustad,” katanya sambil masih terisak.

Aku cuma tersenyum menanggapi pujiannya.

“Mau kakak ceritakan kisah bagus dik?” tanyaku.

“Mau kak. Cerita apa? Kancil ya?” tanyanya bersemangat.

“Wah bukan, cerita nya jauh lebih bagus. Kisah sejarah terhebat. Tahu Nabi Muhammad dik?”

“Tauuu. Nabi Muhammad itu utusan Allah. Benarkan kak?”

“100 buat dik Indah,” kataku sambil tersenyum.

Ia bersorak girang. Lalu kumulai bercerita tentang kisah hidup Rosululloh Shalallahu‘alaihi wassalam. Dari mulai beliau yatim. Kemudian piyatu. Lalu ditinggal sang kakek tercinta. Sampai dipenghujung hayat Muhammad SAW. Kisah mana yang lebih hebat dari kisahnya Muhammad SAW? Tak ada.  Sejarah mana atau siapa yang pencatatannya mendetail seperti sejarah kehidupan Muhammad SAW? Tak ada.

Akhirnya ia tertidur dipangkuanku. Kulihat dari matanya ada setetes bulir air mata yang mengalir. Aku hanya bisa termenung, mendoakannya dan mereka yang terkena musibah letusan Gunung Merapi ini.

“Ya Rabb, Engkau berjanji tak akan menimpakan adzab kepada ummat Muhammad SAW, maka berbagai musibah ini pastilah peringatan dan ujian dari-Mu. Dan bila itu merupakan ujian dari-Mu, Engkau pun berjanji bahwa tak akan memberi ujian yang melebihi kemampuan hamba-Mu. Dan setelah ujian atau kesulitan itu Engkau berikan kepada hamba-Mu, maka Engkau pun berjanji akan ada kemudahan setelah kesulitan tersebut. Maka Ya Allah, ArRahman, ArRahim,, Yang Maha Adil, Yang Maha Bijaksana, Yang Menguasai seluruh alam raya, berikanlah kesabaran, ketabahan dan hidayah bagi hamba-Mu yang sedang Engkau uji, yang sedang tertimpa musibah. Berikanlah keringanan, kemudahan, keikhlasan dalam mereka menjalani ujian dari-Mu..” doaku lirih. Kutambahkan pula doa untuk ummat muslimin, doa kedua orang tua, dan kututup dengan doa sapu jagad.

Ku merenung. Bagaimana nasib anak ini? Bagaimana dengan anak-anak yang bernasib sama dengan Indah? Dengan korban-korban lain yang rumahnya hancur? Ah, aku tak tahu. Aku hanya bisa memasrahkan perlindungan untuk saudaraku kaum muslimin kepada Allah Azza wa Jalla. Termasuk juga dengan anak ini, Indah…

Air mataku pun mengalir pelan. Diiringi langit malam yang masih terus bertasbih, mengucurkan hujan yang deras sebagai barakah di bumi Yogyakarta…

2 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s