Nasi Bungkus

Aku duduk bersila bertopang dagu. Melangut. Hanya mataku sesekali bergerak memperhatikan sekitar. Suasana masjid kampus UGM terlihat begitu ramai mendekati waktu maghrib. Ada yang tiduran di pinggir, melamun, ngobrol, namun ada pula yang serius memperhatikan kultum. Aku sendiri tadi datang terlambat. Moodku terlanjur tidak masuk. Sehingga mendengarkan penceramah hanya setengah – setengah. Setengah melamun karena lapar dan mengantuk. Tapi gerakan disampingku menyadarkanku.

Nasi bungkusan!

Aku berseri ketika nasi bungkusan mulai dibagikan dengan cara berputar. Inilah yang ku tunggu dari tadi. Ngantukku segera hilang, walau cacing di perutku semakin memberontak menggempur dinding lambung dan usus ku. Ini merupakan salah satu misiku di bulan Romadhon kali ini. Adalah mencari takjilan gratis untuk ngirit biaya makan. Uang yang kutabung ini rencana untuk beli buku nanti setelah lebaran.

Tak lama kemudian, penceramah pun menutup kultum sore itu. Semua orang segera beranjak menuju ke meja di serambi masjid di sayap selatan. Di atas meja tersebut terdapat bergelas-gelas air teh hangat.

“Satu orang satu!” teriak mas-mas yang membagikan air minum.

Setelah mengambil minum, aku celingukan mencari tempat. Kebanyakan sudah duduk dan mengobrol bersama rombongannya. Aku berjalan menuju sayap utara. Kulihat ada seorang bapak yang sudah tua duduk sendirian.

“Assalamu’alaikum. Sareng nggih pak?” sapa ku.

“Wa’alaikumsalam. Oh silahkan mas,” kata bapak itu sambil mempersilahkanku duduk di rerumputan.

Kuperhatikan pakaiannya lusuh, namun bersih.

“Alhamdulillah ya mas, sudah masuk bulan Romadhon,” kata bapak itu.

“Iya pak alhamdulillah. Bapak sendirian?” tanyaku basa-basi.

“Iya mas, sendiri. Lha wong saya ini cuma pemulung sampah mas,” kata bapak itu lirih.

Serasa hatiku berdesir.

Pemulung?

“Lha istri sama anak pak?” tanyaku.

Segera kusadari pertanyaanku tak sopan. Namun pertanyaan itu sudah terlanjur keluar dan tak bisa ditarik lagi. Memang lidah itu tak bertulang.

“Walah mas, istri sama anak saya itu minggat entah kemana. Katanya saya ga becus jadi suami, gak bisa menafkahi. Sampai sekarang saya cari-cari ndak ketemu. Lha ya gimana to mas, nguripi saya sendiri aja susah,” kata bapak itu panjang lebar.

Aku tak bisa berkata-kata. Keningku berkerut-kerut. Hanya diam membiarkan bapak itu melanjutkan ceritanya.

“Tapi saya senang sekali mas kalau masuk bulan Ramadhan. Tiap sore ada buka bersama di masjid-masjid begini. Jadi bisa makan gratis. Paling tidak sehari sekali bisa makan. Alhamdulillah, barakah Ramadhan. Tapi nanti sahur ya hanya minum air putih, sambil kerja ngambili sampah dirumah-rumah,” kata bapak itu sambil tersenyum.

Kepalaku menunduk. Memandangi rerumputan hijau di depan ku yang tak bersalah. Dadaku sesak, hatiku mengharu biru. Betapa bedanya keadaanku dengan keadaan bapak ini. Aku masih banyak mengeluh dan suka lupa untuk bersyukur.

Benarkah pemulung itu masuk kategori pekerjaan?

Mungkin lebih baik daripada pengemis?

Aku tak tahu. Aku tak bisa menilai. Dan  aku merasa aku ingin sekali menolong bapak itu.

Tapi apa?

Kesombongan itu tak bersisa. Semua sama. Benarlah bahwa dihadapan Allah hanya iman dan taqwa yang membedakan.

Apakah seorang presiden lebih baik dari seorang pemulung?

Aku pun tak yakin.

Suara adzan maghrib mengalun merdu, membelah angkasa. Terdengar pula suara yang serak itu menyapaku, menyadarkanku.

“Didhahar mas, monggo,” kata bapak itu.

Segera ia melahap nasi bungkusannya dengan mata berbinar.

“Oh nggih pak, monggo,” kataku tercekat.

Nafsu makanku hilang entah kemana. Nasi yang kupandangi terlihat kabur, karena air mata yang menggenang dipelupuk mataku. Namun aku paksakan untuk makan. Hingga air mata itu tumpah. Mengalir lembut dipipiku yang bergerak-gerak mengunyah nasi bungkusan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s