Nasi Bungkus

Aku duduk bersila bertopang dagu. Melangut. Hanya mataku sesekali bergerak memperhatikan sekitar. Suasana masjid kampus UGM terlihat begitu ramai mendekati waktu maghrib. Ada yang tiduran di pinggir, melamun, ngobrol, namun ada pula yang serius memperhatikan kultum. Aku sendiri tadi datang terlambat. Moodku terlanjur tidak masuk. Sehingga mendengarkan penceramah hanya setengah – setengah. Setengah melamun karena lapar dan mengantuk. Tapi gerakan disampingku menyadarkanku.

Nasi bungkusan!

Aku berseri ketika nasi bungkusan mulai dibagikan dengan cara berputar. Inilah yang ku tunggu dari tadi. Ngantukku segera hilang, walau cacing di perutku semakin memberontak menggempur dinding lambung dan usus ku. Ini merupakan salah satu misiku di bulan Romadhon kali ini. Adalah mencari takjilan gratis untuk ngirit biaya makan. Uang yang kutabung ini rencana untuk beli buku nanti setelah lebaran.

Baca Lebih Lanjut

Sepenggal Kehidupan

by : Raditya Ndaru

Hujan deras masih mengguyur kota Yogyakarta. Gadis kecil itu termangu didekat jendela kusam di sudut ruangan. Kuhampiri pelan setelah tadi kutinggal sebentar untuk sholat Isya’. Kusampirkan jaketku di punggungnya lalu kupeluk dia. Akhirnya pecahlah tangisnya. Ya, dia adalah salah satu anak korban bencana letusan Gunung Merapi.

Namanya Indah. Bayangkan di umur 8 tahun ia kehilangan keluarganya. Siang tadi waktu evakuasi di daerah Pakem, ia keluar dari rumahnya bertelanjang kaki sambil menangis. Tubuhnya penuh abu dari Merapi. Bahkan rambutnya pun menjadi putih. Kudekati ia dan kubuka masker di wajahku, agar ia tidak takut. Kuberikan senyum terbaik ku.

“Kak, emak sm Budi masih di dalam rumah. Tidur terus. Dibangunin gak mau bangun” katanya merengek.

“Iya. Kita ke tempat aman dulu ya sayang. Biar temen-temen mas ini yang membangunkan emak sm Budi,” kataku pelan.

Ku usap air matanya. Lalu ku gendong ia ke tempat penampungan. Masih menangis ketakutan. Sesampainya di sana, ku bersihkan tubuhnya dengan washlap basah dan kuganti bajunya dengan pakaian sumbangan. Kubawa kedalam ruangan, lalu ambilkan roti dan air mineral gelasan. Ia makan dengan lahap, walaupun tak berhenti menanyakan emak nya.
Baca Lebih Lanjut