Cinta, Ilmu, dan Kesuksesan

Bismillah..
Tengah malam koq pengen nulis sesuatu. Mungkin sepatah dua patah kata dari ku dalam menyambut bulan Ramadhan 1431 H. Ini adalah berbagai macam nasehat yg kudapat dan tambahan sedikit disana sini. Juga ada nasehat dari seorang penulis ternama ^^. Oya, ini sebagian besar buat para lelaki, tp ya mungkin bisa jg untuk para wanita.. 😀
Kawan.. ketika hatimu dijajah oleh rasa cinta kepada wanita yg engkau cinta, ketahuilah tak ada dokter yg bisa menyembuhkanmu kecuali dirimu sendiri. Jodoh itu tanpa dikejar, tanpa dibuat bersakit sakit, jika tiba saat nya akan datang juga. Sudah ditulis oleh Allaah. Bila bukan jodoh, sampai katakanlah minta bantuan jin di jagad raya ini untuk membantu mu mendapatkan nya, maka kau tetap saja tak kan mendapat nya.
Sementara itu, ilmu dan prestasi juga amal ibadah. Jika tidak di usahakan dengan serius, maka tidak akan kau raih. Ilmu tidak bisa diraih dengan tiduran dan malas-malasan. Prestasi dan kesuksesan tidak akan diraih kecuali dengan pengorbanan secara maksimal pikiran, tenaga, dan perasaan. Bahkan kalau perlu nyawa. Tak ada dalam catatan sejarah ada orang sukses hanya dengan melamun, tidur, dan banyak angan2. Tak ada seorang yang juara dalam bidang apapun kecuali ia pasti seorang pejuang yang ulung. Kalau ingin ilmu yang berlimpah, berprestasi, dan sukses dunia akhirat maka bersemangat lah. Manfaatkan waktu sebaik baiknya dan gigih berjuang. Itulah jalan orang-orang yang sukses.

Baca Lebih Lanjut

Iklan

Tawakal, seperti hati seekor burung

Saudaraku, tahukah engkau apa itu tawakal? Apakah sama dengan sabar? Sebagai seorang muslim yang baik, sudah seharusnya kita tahu apa itu tawakal. Karena tawakal merupakan ibadah hati yang sangat agung saudaraku. Mari kita simak hikmah dari hadits-hadits dan perkataan para ulama berikut.

Dari Abu Hurairoh radiyallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Akan masuk surga suatu kaum, hati mereka seperti hati burung” (HR. Muslim) maknanya adalah dalam merealisasikan tawakal.

Lantas seperti apa hati burung? Hal ini dijelaskan oleh hadits dari sahabat Umar bin khotob radiyallahu’anhu, bahwasannya beliau mendengar Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi hari dengan perut kosong dan pulang sore hari dengan perut kenyang” (shahih Tirmidzi, beliau berkata, ‘hadits hasan sohih)

Mengomentari hadits tersebut, Ibnu Rajab rohimahullah berkata di dalam kitabnya Jami’ul ‘ulum wal Hikam, “Hadits ini adalah dasar atau asas di dalam bertawakal, hal terebut juga merupakan diantara sebab yang paling besar dalam memperoleh rizki,” Oleh karena itu, kita tidak pernah mendengar seekor burung pada pagi hari terbentur dengan masalah rizki, lalu dia benturkan kepalanya ke tiang listrik. Itu tidak terjadi pada burung, tapi pada manusia hal tersebut terjadi dan sering kita dengar di berita atau dia media massa.” Baca Lebih Lanjut

Tips agar tetap Istiqomah

Saudaraku, kita memerlukan apa yang di sebut dengan istiqomah. Istiqomah dalam dinnul islam ini. Karena kita tidak bisa hanya beramal mungkin dalam jangka waktu tertentu saja, tetapi harus tiap saat tiap waktu kita beristiqomah memegang sunnah, melaksanakan perintah Allah dan Rosul Nya. Karena kita tahu bahwasannya maut menjeput bisa kapan saja. Lantas apakah kita mau mati dengan su’ul khotimah? Tentu tidak saudaraku, pastilah husnul khotimah yang kita inginkan.

Nah ini sedikit tips agar kita bisa beristiqomah di jalan Allah Azza wa Jalla :

1. Mengikhlaskan niat saat melakukan amalan-amalan ketaatan

Inilah pintu utama, yaitu pintu yang dapat mengantarkan seseorang untuk dapat istiqamah dalam hidupnya sehingga ia dapat berjumpa dengan Allah dalam keadaan bahagia.

Allah berfirman (yang artinya):

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Tuhannya dengan seorangpun dalam melakukan ibadah kepada-Nya”. (Al-Kahfi: 110)

Hendaklah seseorang membersihkan hatinya dari sifat ingin dipuji atau tujuan-tijuan duniawi saat melakukan amalan-amalan ketaatan kepada-Nya (riya’ dan sum’ah). Mungkin kita dapatkan orang yang saat berkunjung dan menginap di rumah temannya, ia begitu semangat dalam membaca Al-Qur’an, qiyamul lail dan amalan-amalan ketaatan lainnya Namun ketika ia kembali ke rumahnya, entah mengapa bacaan Al-Qur’an tidak terdengar lagi dari bibirnya, demikian pula tidak terdengar lagi percikan air wudhu di sepertiga malam yang terakhir di rumahnya. Ia telah meninggalkan amalannya. Ia tidak dapat istiqamah dalam menjalankan amalan-amalan ketaatan. Kenapa hal itu bisa terjadi? Hendaklah orang tersebut mengintrospeksi dirinya, yaitu apakah saat ia membaca Al-Qur’an dan melakukan qiyamul lail betul-betul murni untuk Allah ataukah ada niatan-niatan lain di balik ibadahnya? Hanya Allah kemudian dirinyalah yang tahu bisikan hatinya. Dalam suatu hadist disebutkan :

“Sesungguhnya ada salah seorang di antara kalian yang ia beramal dengan amalan penduduk surga sampai-sampai jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal satu jengkal, akan tetapi taqdir telah mendahuluinya sehingga iapun beramal dengan amalan penduduk neraka, akhirnya iapun masuk ke dalam neraka.” (HR. Muslim no 4781)

Baca Lebih Lanjut

5 Tingkatan Ukhuwah

Perjuangan Islam tidak akan tegak tanpa adanya ukhuwah islamiyah.
Islam menjadikan persaudaraan dalam islam dan iman sebagai dasar bagi aktifitas perjuangan untuk menegakkan agama Allah di muka bumi. Ukhuwah islamiyah akan melahirkan rasa kesatuan dan menenangkan hati manusia. Banyak persaudaraan lain yang bukan karena islam dan persaudaraan itu tidak akan kuat dan kekal. Persaudaraan Islam yang dijalin oleh Allah SWT merupakan ikatan terkuat yang tiada tandingannya.
Poerpecahan dikalangan umat dewasa ini terjadi disebabkan mereka tidak memenuhi persyaratan ukhuwah, yaitu kurangnya mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang bersungguh-sungguh. Allah SWT berfirman, ketaatan beribadah dan ketakwaan sebagai solusi dari perpecahan umat. Lihat Q.S.49:10 dan 8 :1
Oleh karena itu untuk mencapai nikmatnya ukhuwah, perlu kita ketahui beberapa proses terbentuknya ukhuwah islamiyah antara lain ada 5 :

1. Ta’aruf (Saling Mengenal) : ini adalah tingkatan yang paling dasar dalam ukhuwah. Adanya interaksi dapat lebih mengenal karakter individu. Perkenalan pertama tentunya kepada penampilan fisik (Jasadiyyan), seperti tubuh, wajah, gaya pakaian, gaya bicara, tingkah laku, pekerjaan, pendidikan, dsb. Selanjutnya interaksi berlanjut ke pengenalan pemikiran(Fikriyyan). Hal ini dilakukan dengan dialog, pandangan thd suatu masalah, kecenderungan berpikir, tokoh idola yang dikagumi/diikuti,dll. Dan pengenalan terakhir adalah mengenal kejiwaan (Nafsiyyan) yang ditekankan kepada upaya memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku. Seoerti kalau kita kenalan dengan orang pertama kalinya, kita tanya alamat, no HP dsb

2. Tafahum (Saling Memahami) : proses ini berjalan secara alami. Seperti bagaimana kita memahami kekurangan dan kelebihan saudara kita. Sehingga kita bisa tahu apa yang di sukai dan tidak di sukai, menempatkan posisi seperti apa bila kita bersamanya dsb.

Baca Lebih Lanjut