Menyusuri Peradaban Islam di Andalusia (Spanyol)

“Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari?, Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian.”

Kalimat tersebut diucapkan setelah kapal yang digunakan menyeberangi selat, sehingga satu-satunya pilihan bagi 7000 pasukan Islam saat itu hanyalah menghadapi 100.000 pasukan Visigoth guna menaklukkan negeri Andalusia, atau syahid disana. Pidato terkenal ini dikobarkan oleh seorang panglima perang yang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah penyebaran Islam: Thariq bin Ziyad.

Thariq bin Ziyad
Nama lengkapnya adalah Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathufat bin Nafzau. Beliau merupakan putra suku Ash-Shadaf, suku Barbar, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata, dan ilmu bela diri. Beliau adalah salah seorang Panglima Perang Islam pada masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik atau al-Walid I (705-715 M) dari bani Umayah.

Pada bulan Rajab 97 H atau Juli 711 M, beliau mendapat perintah dari Gubernur Afrika Utara, Musa bin Nusair untuk mengadakan penyerangan ke semenanjung Andalusia (Semenanjung Iberia yang sekarang meliputi negara Spanyol dan Portugis). Bersama 7.000 pasukan yang dipimpinnya, Thariq bin Ziyad menyeberangi selat Gibraltar (berasal dari kata “Jabal Thariq” yang berarti “Gunung Thariq”) menuju Andalusia.

Setelah armada tempur lautnya mendarat di pantai karang, beliau berdiri di atas bukit karang dan berpidato. Beliau memerintahkan anak buahnya untuk membakar kapal-kapal yang membawa seluruh awak pasukannya. Kecuali kapal-kapal kecil yang diminta pulang untuk meminta bantuan kepada khalifah[citation needed, lihat footnote]. Beliau mengatakan, “Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya dua pilihan, menaklukkan negeri ini dan menetap di sini serta mengembangkan Islam, atau kita semua binasa (syahid).”

Karuan saja pidato ini membakar semangat jihad pasukannya. Mereka segera menyusun kekuatan untuk menggempur pasukan kerajaan Visigoth, Spanyol, di bawah pimpinan Raja Roderick. Atas pertolongan Allah swt, 100.000 pasukan Raja Roderick tumbang di tangan pasukan muslim. Raja Roderick pun menemui ajal di medan pertempuran ini. Baca Lebih Lanjut

Derita Seorang Pencinta

Tidak ada di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang pencinta…
Meskipun ia merasakan manisnya cinta…
Kamu lihat dia menangis di setiap waktu…
Karena takut berpisah atau karena rindu…

Ia menangis karena rindu akan jauhnya sang kekasih…
Namun, bila kekasihnya dekat…
Ia menangis karena takut berpisah…

Matanya selalu menghangat ketika terjadi perpisahan…
Matanya pun berkaca-kaca ketika pertemuan itu tiba…
Pelakunya memang merasakan kenikmatan…
Namun, sebenarnya…
Kasmaran itu merupakan siksa yang paling besar di hati…

Jika kita memiliki atau paling tidak memikirkan Ilmu, maka niscaya tidak akan seperti itu insyaAllaah.. 🙂

[ lihat dalam: كتاب الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي , karya محمد بن أبي بكر أيوب الزرعي أبو عبد الله (masyhur dengan nama Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah), hal. 151 ]

Puisi Untukmu Tercinta

ukhtiku…
dimanapun engkau sekarang, janganlah gundah, jangan lah gelisah…
telah kulihat wajahmu dan aku mengerti…
betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku dalam harimu…
percayalah padaku akupun rindu akan hadirmu…

aku akan datang tapi mungkin tidak sekarang…
karena jalan ini masih panjang…
banyak yang menghadang…
hatikupun melagu dalam nada angan…
seolah sedetik tiada tersisakan…
resah hati tak mampu kuhindarkan…
tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan…
karang asa ku tiada kan terkikis dari panjang jalan perjuangan, hanya karena sebuah kegelisahan…
lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan…
keputusan besar tuk datang kepadamu…

ukhtiku…
jangan menangis, jangan bersedih…
hapus keraguan dalam hatimu…
percayalah pada-Nya, Yang Maha Memberi Cinta…
bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir…
yakinlah saat itu kan tiba…

tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu…
karena kecantikan hati dan iman yang dicari…

tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu…
karena aura keimanan lah yang utama…
itulah auramu yang memancarkan cahaya surga…
merasuk dan menembus relung jiwaku…

wahai perhiasan terindah…
hidupmu jangan kau pertaruhkan, hanya karena kau lelah menunggu…
apalagi hanya demi sebuah pernikahan, karena pernikahan tak dibangun dalam sesaat tapi bisa hancur dalam sekejap..

bariskan harapmu sepenuh rindumu…
pada istikharah di shalat malam mu…
pulanglah pada-Nya kedalam pelukan-Nya…
jika memang kau tak sempat bertemu diriku, sungguh…
itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci…
dan kau terpilih menjadi Ainul Mardhiyah di jannah-Nya…

ukhtiku…
kutahu kau merinduiku…
bersabarlah saat indah kan menjelang jua…
saat kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan..

apa kabar kau di sana?
lelahkah kau menunggu ku berkelana?
bisa bertahankah kau disana?
tetaplah kau bertahan disana…
aku kan segera datang…
insya Allah…

Curahan Hati Seorang Ikhwan

Kami sulit menahan pandangan mata ketika
melihat kalian, apalagi jika kalian
diamanahkan ALLAH kecantikan dan postur
yang ideal, kami semakin susah untuk
menolak agar tidak melihat kalian,
karena itu lebarkanlah pakaian kalian,
dan tutupilah rambut hingga ke dada
kalian dengan kerudung yang membentang.

Kami juga sulit menahan pendengaran kami
ketika berbicara dengan kalian, apalagi
jika kalian diamanahkan oleh ALLAH suara
yang merdu dengan irama yang mendayu,
karena itu tegaskanlah suara kalian, dan
berbicaralah seperlunya.

Kami juga sulit menahan
bayangan- bayangan hati kalian, ketika
kalian dapat menjadi tempat mencurahkan
isi hati kami, waktu luang kami akan
sering terisi oleh bayangan-bayangan
kalian, karena itu janganlah kalian
membiarkan kami menjadi curahan hati
bagi kalian.

Kami tahu kami paling lemah bila harus
berhadapan dengan kalian, Kekerasan hati
kami dengan mudah bisa luluh hanya
dengan senyum kalian, Hati kami akan
bergetar ketika mendengar kalian
menangis, Sungguh ALLAH telah memberikan
amanah terindah kepada kalian, maka
jagalah jangan sampai ALLAH murka dan
memberikan keputusan.

Maha Besar ALLAH yang tahu akan
kelemahan hati kami, hanya dengan ikatan
yang suci dan yang diridhoi-Nya kalian
akan halal bagi kami.

“Lalu apa yang telah aku lakukan selama
ini…
Ya Rabb…tolong ampuni aku…untuk
setiap pandangan yang tak terjaga,
lisan yang merayu dan hati yang tak
terhijab…Ya Rabb…Engkau mengawasi kami tiap
detik, karena kasih sayangMu kepada kami
engkau perintahkan malaikat silih
berganti menemani kami siang dan malam…”

Yahudi Bukan Israel

Sungguh sangat memprihatinkan, banyak di antara kaum muslimin sering tidak sadar dan lepas kontrol ketika berbicara. Tidak hanya terjadi pada orang awam, bisa kita katakan juga terjadi pada sebagian besar pelajar atau bahkan mereka yang merasa memiliki banyak tsaqafah islamiyah.

Barangkali mereka lupa atau mungkin tidak tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, diucapkan tanpa kontrol akan tetapi menjerumuskan dia ke neraka.” (HR. Al Bukhari 6478)

Al Hafidz Ibn Hajar berkata dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadis ini, yang dimaksud diucapkan tanpa kontrol adalah tidak direnungkan bahayanya, tidak dipikirkan akibatnya, dan tidak diperkirakan dampak yang ditimbulkan. Hal ini semisal dengan firman Allah ketika menyebutkan tentang tuduhan terhadap Aisyah:

وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْد اللَّه عَظِيم

“Mereka sangka itu perkara ringan, padahal itu perkara besar bagi Allah.” (QS. An-Nur: 15)

Oleh karena itu, pada artikel ini -dengan memohon pertolongan kepada Allah- penulis ingin mengingatkan satu hal terkait dengan ayat dan hadis di atas, yaitu sebuah ungkapan penamaan yang begitu mendarah daging di kalangan kaum muslimin, sekali lagi tidak hanya terjadi pada orang awam namun juga terjadi pada mereka yang mengaku paham terhadap tsaqafah islamiyah. Ungkapan yang kami maksud adalah penamaan YAHUDI dengan ISRAEL. Tulisan ini banyak kami turunkan dari sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafidzhahullah yang berjudul “Penamaan Negeri Yahudi yang Terkutuk dengan Israel”.

Tidak diragukan bahkan seolah telah menjadi kesepakatan dunia termasuk kaum muslimin bahwa negeri yahudi terlaknat yang menjajah Palestina bernama Israel. Bahkan mereka yang mengaku sangat membenci yahudi -sampai melakukan boikot produk-produk yang diduga menyumbangkan dana bagi yahudi- turut menamakan yahudi dengan israel. Akan tetapi sangat disayangkan tidak ada seorang pun yang mengingatkan bahaya besar penamaan ini.

Perlu diketahui dan dicamkan dalam benak hati setiap muslim bahwa ISRAIL adalah nama lain dari seorang Nabi yang mulia, keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yaitu Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Allah ta’ala berfirman:

كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ

“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan.” (QS. Ali Imran: 93)

Baca Lebih Lanjut

Kesyirikian dalam sumpah pramuka “Tri Satya”

“Tri Satya, demi kehormatanku aku berjanji…”

Demikianlah kata-kata yang sering kita dengar dari Pramuka. Dalam kalimat di atas terdapat ucapan sumpah dengan selain Allah yaitu bersumpah dengan ‘kehormatan’.

Apakah ini dibolehkan? Berikut ini jawabannya,

عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ قَالَ سَمِعَ ابْنُ عُمَرَ رَجُلاً يَحْلِفُ لاَ وَالْكَعْبَةِ فَقَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ ».

Dari Sa’ad bin Ubadah, suatu ketika Ibnu Umar mendengar seorang yang bersumpah dengan mengatakan ‘Tidak, demi Ka’bah’ maka Ibnu Umar berkata kepada orang tersebut, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka dia telah melakukan kesyirikan” (HR Abu Daud no 3251, dinilai shahih oleh al Albani).

Bersumpah dengan Allah adalah bentuk mengagungkan Allah. Oleh karenanya, bersumpah dengan selain Allah dinilai sebagai bentuk tindakan lancang kepada Allah dan melecehkan kesempurnaan dan keagungan Allah . Karena seorang insan jika ingin menegakan bahwa dirinya benar dalam perkataannya atau berupaya membersihkan diri dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya maka dia akan bersumpah dengan sesuatu yang paling agung dalam hatinya. Adakah di alam semesta ini suatu yang lebih agung dibandingkan dengan Allah. Oleh karena itu, bersumpah dengan selain Allah tergolong kesyirikan.

Hukum bersumpah dengan selain Allah adalah haram menurut mayoritas ulama.
Ibnu Taimiyyah berkata, “Bersumpah dengan makhluk hukumnya haram menurut mayoritas ulama. Inilah pendapat Abu Hanifah dan merupakan salah pendapat dari dua pendapat yang ada dalam mazhab Syafii dan Ahmad. Bahkan ada yang menyatakan bahwa para shahabat telah bersepakat dalam hal ini.
Ada juga yang berpendapat bahwa sumpah dengan selain Allah itu makruh. Namun pendapat pertama jelas pendapat yang lebih benar sampai-sampai tiga shahabat nabi yaitu Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar berkata, ‘Sungguh jika aku bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan aku berbohong itu lebih aku sukai dibandingkan jika aku bersumpah dengan selain Allah dalam kondisi benar” (Majmu Fatawa 1/204). Baca Lebih Lanjut

Fun Rafting

PERSIAPAN

Pagi itu hujan membasahi kota jogja dengan mesra. Sedangkan aku duduk termenung dalam kamar kos terkantuk kantuk.

“Wah koq hujan ya? Rafting nya jadi ga ni ya?” ktku dalam hati.

Kulihat jam udah menunjukkan pukul 7 pagi. Aku sangat mengantuk sekali. Karena semalam ga tidur. Biasalah, malam minggu gituh 😀 (cuman baca buku sm maen game ding). Kuambil pakaian dan perlengkapan mandi. Mandi pagi di pagi hari yang hujan dan dingin. Setelah itu kujejalkan pakaian ganti dan handuk ke dalam tas. Lalu berangkat ke kampus. Ya, hari ini aku mau rafting. Bukan mau kuliah. Yeaah, semangat membara walaupun mata semrepet 😀

Ternyata hujan sudah terang. Dan.. yak sudah kuduga. Orang Indonesia emang moloooorrr. Masa jam 7 di jadwal, berangkat nya jam 8.30. Dan ternyata ada 4 orang bule ikut rafting juga. Pengen ngobrol, tp kok gak pede ya? hahahha.

BERANGKAT

Rafting nya di Sungai Elo, Magelang, deket candi mendut. Berangkat naek bis.. bis apa td ya?? Yah pokoknya bis angin cendela dah, yang penting bisa jalan walo tampang nya tak meyakinkan. Haha.

Aku ambil tempat duduk terdepan, sm Yudis. Menikmati pemandangan perjalanan sambil menyantap snack yang di bagikan oleh panitia. Hmm.. nikmat. Tapi aku lupa, bahwa kap mesin bis itu di depan, jadi semakin lama, bagian bawah ku semakin panas  (maksudnya bagian kaki itu lho).

Pemandangan tak begitu kunikmati. Karena setelah snack habis, langsung teler. Ngantuk banget. Sampai di Magelang kira kira jam 9 lebih lah. Di kawasan candi mendut. Kemudian ke basecamp, naruh barang2 jalan kaki. Sesampai nya di basecamp, istirahat bentar (klekaran). Lalu pembagian kelompok. Karena 1 kapal buat 6 orang. Aku sekelompok dengan.. sapa aja ya tadi? wakakkaa, bentar2.. Towi, Hanung, Satrio, Dea, Wulan.. (bener ga yo? kalo salah ya maap) hehe.

Akhirnya berangkat ke lokasi, naek angkot yang memang sudah di sewa dan di sediakan untuk mengantar para calon perafting.

Sampai di pinggir sungai, diberikan pengarahan oleh pemandu nya. Tentang cara duduk di perahu, cara memegang dayung, termasuk cara kalo kecebur sungai juga. Setelah memakai pelampung, helm, dan masing2 orang bawa 1 dayung, maka smua pada masuk ke kapal. Akhirnya di mulai lah rafting nya 😀 Baca Lebih Lanjut

Tawakal, seperti hati seekor burung

Saudaraku, tahukah engkau apa itu tawakal? Apakah sama dengan sabar? Sebagai seorang muslim yang baik, sudah seharusnya kita tahu apa itu tawakal. Karena tawakal merupakan ibadah hati yang sangat agung saudaraku. Mari kita simak hikmah dari hadits-hadits dan perkataan para ulama berikut.

Dari Abu Hurairoh radiyallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Akan masuk surga suatu kaum, hati mereka seperti hati burung” (HR. Muslim) maknanya adalah dalam merealisasikan tawakal.

Lantas seperti apa hati burung? Hal ini dijelaskan oleh hadits dari sahabat Umar bin khotob radiyallahu’anhu, bahwasannya beliau mendengar Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi hari dengan perut kosong dan pulang sore hari dengan perut kenyang” (shahih Tirmidzi, beliau berkata, ‘hadits hasan sohih)

Mengomentari hadits tersebut, Ibnu Rajab rohimahullah berkata di dalam kitabnya Jami’ul ‘ulum wal Hikam, “Hadits ini adalah dasar atau asas di dalam bertawakal, hal terebut juga merupakan diantara sebab yang paling besar dalam memperoleh rizki,” Oleh karena itu, kita tidak pernah mendengar seekor burung pada pagi hari terbentur dengan masalah rizki, lalu dia benturkan kepalanya ke tiang listrik. Itu tidak terjadi pada burung, tapi pada manusia hal tersebut terjadi dan sering kita dengar di berita atau dia media massa.” Baca Lebih Lanjut

Tips agar tetap Istiqomah

Saudaraku, kita memerlukan apa yang di sebut dengan istiqomah. Istiqomah dalam dinnul islam ini. Karena kita tidak bisa hanya beramal mungkin dalam jangka waktu tertentu saja, tetapi harus tiap saat tiap waktu kita beristiqomah memegang sunnah, melaksanakan perintah Allah dan Rosul Nya. Karena kita tahu bahwasannya maut menjeput bisa kapan saja. Lantas apakah kita mau mati dengan su’ul khotimah? Tentu tidak saudaraku, pastilah husnul khotimah yang kita inginkan.

Nah ini sedikit tips agar kita bisa beristiqomah di jalan Allah Azza wa Jalla :

1. Mengikhlaskan niat saat melakukan amalan-amalan ketaatan

Inilah pintu utama, yaitu pintu yang dapat mengantarkan seseorang untuk dapat istiqamah dalam hidupnya sehingga ia dapat berjumpa dengan Allah dalam keadaan bahagia.

Allah berfirman (yang artinya):

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Tuhannya dengan seorangpun dalam melakukan ibadah kepada-Nya”. (Al-Kahfi: 110)

Hendaklah seseorang membersihkan hatinya dari sifat ingin dipuji atau tujuan-tijuan duniawi saat melakukan amalan-amalan ketaatan kepada-Nya (riya’ dan sum’ah). Mungkin kita dapatkan orang yang saat berkunjung dan menginap di rumah temannya, ia begitu semangat dalam membaca Al-Qur’an, qiyamul lail dan amalan-amalan ketaatan lainnya Namun ketika ia kembali ke rumahnya, entah mengapa bacaan Al-Qur’an tidak terdengar lagi dari bibirnya, demikian pula tidak terdengar lagi percikan air wudhu di sepertiga malam yang terakhir di rumahnya. Ia telah meninggalkan amalannya. Ia tidak dapat istiqamah dalam menjalankan amalan-amalan ketaatan. Kenapa hal itu bisa terjadi? Hendaklah orang tersebut mengintrospeksi dirinya, yaitu apakah saat ia membaca Al-Qur’an dan melakukan qiyamul lail betul-betul murni untuk Allah ataukah ada niatan-niatan lain di balik ibadahnya? Hanya Allah kemudian dirinyalah yang tahu bisikan hatinya. Dalam suatu hadist disebutkan :

“Sesungguhnya ada salah seorang di antara kalian yang ia beramal dengan amalan penduduk surga sampai-sampai jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal satu jengkal, akan tetapi taqdir telah mendahuluinya sehingga iapun beramal dengan amalan penduduk neraka, akhirnya iapun masuk ke dalam neraka.” (HR. Muslim no 4781)

Baca Lebih Lanjut

Strategi perang sama dengan strategi cinta?

Sejarah mencatat ada seorang strategi militer yg bernama Sun Tzu. Strateginya bernama Fuu rin ka zan in rai (mungkin di kenalnya Fuurinkazan, krn “in” dan “rai” merupakan bagian yang hilang). Sangat terkenal dalam Art of War.

ada yg tahu?? ini nih :

Swift as the wind : When he moves his army, they move as fast as the wind.

Immovable as the mountain : When he decides to defend, he has dignified bearing like mountain.

Silent as the forest : When he stays somewhere, he becomes as quiet as the forest.

Fierce as the fire : When he attacks, he becomes as violent as fire.

Strike as the thunder : When they strike, instantly like thunder.

Hide as the darkness : When they hide, they hide in obscurity like the darkness.

ternyata bisa di pakai untuk strategi cinta. Hehe 😀

Saya contohkan:
*Immovable as the mountain, ketika keadaan belum mendukung, not bad to settle in a place, and wait deliberately like a mountain. Bersabar menunggu saat yang tepat datang, kepada orang yang tepat 😀
*Swift as the wind, while the feeling is still hot, you can go and act on it as quickly as the wind, ketika sudah siap tunggu apa lagi? mumpung masih “panas” 😀

yang lain nya? pikir sendiri deh. Hehe.. ^_^